Rheumatoid Arthritis
Rheumatoid Arthritis
Kata arthritis berasal dari bahasa Yunani,
“arthon” yang berarti sendi, dan “itis” yang berarti peradangan. Secara
harfiah, arthritis berarti radang pada sendi. Sedangkan Rheumatoid Arthritis
adalah suatu penyakit autoimun dimana persendian (biasanya tangan dan kaki)
mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan seringkali
menyebabkan kerusakan pada bagian dalam sendi.
Rheumatoid Arthritis (RA) adalah penyakit autoimun yang etiologinya belum diketahui dan ditandai oleh sinovitis erosif yang simetris dan pada beberapa kasus disertai keterlibatan jaringan ekstraartikular. Penyakit ini sering menyebabkan kerusakan sendi, kecacatan. Perjalanan penyakit RA ada 3 macam yaitu monosiklik, polisiklik dan progresif.
Faktor
Risiko Rheumatoid Arthritis
a. Tidak Dapat Dimodifikasi
1.
Faktor genetik
Faktor genetik berperan 50% hingga 60% dalam
perkembangan RA. Gen yang berkaitan kuat adalah HLA-DRB1. Selain itu juga ada
gen tirosin fosfatase PTPN 22 di kromosom 1. Perbedaan substansial pada faktor
genetik RA terdapat diantara populasi Eropa dan Asia. HLADRB1 terdapat di
seluruh populasi penelitian, sedangkan polimorfisme PTPN22 teridentifikasi di
populasi Eropa dan jarang pada populasi Asia. Selain itu ada kaitannya juga
antara riwayat dalam keluarga dengan kejadian RA pada keturunan selanjutnya.
2.
Usia
RA biasanya timbul antara usia 40 tahun
sampai 60 tahun. Namun penyakit ini juga dapat terjadi pada dewasa tua dan
anak-anak (Rheumatoid Arthritis Juvenil). Dari semua faktor risiko untuk timbulnya
RA, faktor ketuaan adalah yang terkuat. Prevalensi dan beratnya RA semakin
meningkat dengan bertambahnya usia. RA hampir tak pernah pada anak-anak, jarang
pada usia dibawah 40 tahun dan sering pada usia diatas 60 tahun.
3.
Jenis kelamin
RA jauh lebih sering pada perempuan dibanding
laki-laki dengan rasio 3:1. Meskipun mekanisme yang terkait jenis kelamin masih
belum jelas. Perbedaan pada hormon seks kemungkinan memiliki pengaruh.
b. Dapat Dimodifikasi
1.
Gaya hidup
-
Status sosial ekonomi
Penelitian di Inggris dan Norwegia menyatakan
tidak terdapat kaitan antara faktor sosial ekonomi dengan RA, berbeda dengan
penelitian di Swedia yang menyatakan terdapat kaitan antara tingkat pendidikan
dan perbedaan paparan saat bekerja dengan risiko RA.
-
Merokok
Sejumlah studi cohort dan case-control
menunjukkan bahwa rokok tembakau berhubungan dengan peningkatan risiko RA.
Merokok berhubungan dengan produksi dari rheumatoid factor(RF) yang akan
berkembang setelah 10 hingga 20 tahun. Merokok juga berhubungan dengan gen
ACPA-positif RA dimana perokok menjadi 10 hingga 40 kali lebih tinggi
dibandingkan bukan perokok. Penelitian pada perokok pasif masih belum terjawab
namun kemungkinan peningkatan risiko tetap ada.
-
Diet
Banyaknya isu terkait faktor risiko RA salah
satunya adalah makanan yang mempengaruhi perjalanan RA. Dalam penelitian
Pattison dkk, isu mengenai faktor diet ini masih banyak ketidakpastian dan
jangkauan yang terlalu lebar mengenai jenis makanannya. Penelitian tersebut
menyebutkan daging merah dapat meningkatkan risiko RA sedangkan buah-buahan
dan minyak ikan memproteksi kejadian RA. Selain itu penelitian lain menyebutkan
konsumsi kopi juga sebagai faktor risiko namun masih belum jelas bagaimana
hubungannya.
-
Infeksi
Banyaknya penelitian mengaitkan adanya
infeksi Epstein Barr virus (EBV) karena virus tersebut sering ditemukan dalam
jaringan synovial pada pasien RA. Selain itu juga adanya parvovirus B19,
Mycoplasma pneumoniae, Proteus, Bartonella, dan Chlamydia juga memingkatkan
risiko RA.
-
Pekerjaan
Jenis pekerjaan yang meningkatkan risiko RA
adalah petani, pertambangan, dan yang terpapar dengan banyak zat kimia namun
risiko pekerjaan tertinggi terdapat pada orang yang bekerja dengan paparan
silica.
2.
Faktor hormonal
Hanya faktor reproduksi yang meningkatkan
risiko RA yaitu pada perempuan dengan sindrom polikistik ovari, siklus
menstruasi ireguler, dan menarche usia sangat muda.
3.
Bentuk tubuh
Risiko RA meningkat pada obesitas atau yang
memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) lebih dari 30.
Penanganan
1.
NSAID
(Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drug)
Diberikan sejak awal untuk menangani nyeri sendi akibat inflamasi. NSAID yang
dapat diberikan atara lain: aspirin, ibuprofen, naproksen, piroksikam,
dikofenak, dan sebagainya. Namun NSAID tidak melindungi kerusakan tulang rawan
sendi dan tulang dari proses destruksi.
2.
DMARD (Disease-Modifying Antirheumatic Drug)
Digunakan untuk melindungi sendi (tulang dan
kartilago) dari proses destruksi oleh Rheumatoid Arthritis. Contoh obat DMARD
yaitu: hidroksiklorokuin, metotreksat, sulfasalazine, garam emas, penisilamin,
dan asatioprin. DMARD dapat diberikan tunggal maupun kombinasi
3.
Kortikosteroid
Diberikan kortikosteroid dosis rendah setara
prednison 5-7,5mg/hari sebagai “bridge” terapi untuk mengurangi keluhan pasien
sambil menunggu efek DMARDs yang baru muncul setelah 4-16 minggu.
4.
Rehabilitasi
Terapi ini dimaksudkan untuk meningkatkan
kualitas hidup pasien. Caranya dapat dengan mengistirahatkan sendi yang
terlibat melalui pemakaian tongkat, pemasangan bidai, latihan,
dan sebagainya. Setelah nyeri berkurang, dapat mulai dilakukan fisioterapi.
5.
Pembedahan
Jika segala pengobatan di atas tidak
memberikan hasil yang diharapkan, maka dapat dipertimbangkan pembedahan yang
bersifat ortopedi, contohnya sinovektomi, arthrodesis, total hip replacement,
dan sebagainya.
DMARD
untuk terapi RA
|
Obat |
Onset |
Dosis |
Keterangan |
|
Sulfasalazin |
1-2 bulan |
1x500mg/hari/io
ditingkatkan setiap minggu hingga 4x500mg/hari |
Digunakan
sebagai lini pertama |
|
Metotreksat |
1-2 bulan |
Dosis awal
7,5-10 mg/ minggu/IV atau peroral 12,5- 17,5mg/minggu dalam 8-12 minggu |
Diberikan
pada kasus lanjut dan berat. Efek samping: rentan infeksi, intoleransi GIT,
gangguan fungsi hati dan hematologik |
|
Hidroksiklorokuin |
2-4 bulan |
400
mg/hari |
Efek
samping: penurunan tajam penglihatan, mual, diare, anemia hemolitik |
|
Asatioprin |
2-3 bulan |
50-150
mg/hari |
Efek
samping: gangguan hati, gejala GIT, peningkatan TFH |
|
D-penisilamin |
3-6 bulan |
250-750mg/hari |
Efek
samping: stomatitis, proteinuria, rash |
Metotrekstat
Dosis
Dosis awal 7,5-10 mg/ minggu/IV atau peroral
12,5- 17,5mg/minggu dalam 8-12 minggu.
Farmakodinamik
Methotrexate memiliki aktivitas imunosupresan
yang kuat meskipun mekanisme kerjanya tidak jelas. Diduga obat ini dapat
mempengaruhi fungsi kekebalan tubuh. Berdasarkan hasil penelitian, reaksi
invitro methotrexate menyebabkan pengambilan prekursor DNA terhambat karena
distimulasi oleh sel mononuklear. Selain itu ditemukan pula gambaran sel yang
mengalami koreksi parsial poliartritis dari hiporesponsivitas sel limpa dan penekanan
produksi interleukin II. Karena efek imunosupresan ini, methotrexate dapat
digunakan untuk mengobati gejala berat rheumatoid arthritis.
Farmakodinamik
-
Absorpsi
Methotrexate juga memiliki aktivitas
imunosupresan yang kuat meskipun mekanisme kerjanya tidak jelas. Diduga obat
ini dapat mempengaruhi fungsi kekebalan tubuh. Berdasarkan hasil penelitian,
reaksi invitro methotrexate menyebabkan pengambilan prekursor DNA terhambat
karena distimulasi oleh sel mononuklear. Selain itu ditemukan pula gambaran sel
yang mengalami koreksi parsial poliartritis dari hiporesponsivitas sel limpa
dan penekanan produksi interleukin II. Karena efek imunosupresan ini,
methotrexate dapat digunakan untuk mengobati gejala berat rheumatoid arthritis.
-
Metabolisme
Metabolisme methotrexate terjadi di hepar dan
intraseluler, diubah menjadi bentuk poliglutamat yang dapat dikonversi kembali
menjadi metotreksat oleh enzim hidrolase. Methotrexate poliglutamat dalam
jumlah kecil akan menetap di dalam jaringan pada waktu lama, dan berbeda di
tiap jaringan. Hal Itu menyebabkan drug of action dan retensi obat bervariasi
pada tiap sel, jaringan, dan jenis tumor. Metotreksat per oral sebagian
dimetabolisme oleh flora usus.
-
Distribusi
Methotrexate setelah pemberian intravena,
volume awal yang didistribusikan sekitar 0,18 L/kg (18% dari berat badan).
Kemudian, volume tetap distribusi methotrexate adalah sekitar 0,4 hingga 0,8
L/kg (40-80% dari berat badan). Pada konsentrasi serum yang lebih besar dari
100 mikromolar, difusi pasif menjadi jalur utama untuk mencapai konsentrasi
intraseluler yang efektif. Methotrexate dalam serum terikat pada protein
sekitar 50%, dan dapat digeser oleh berbagai senyawa lain termasuk sulfonamida,
salisilat, tetrasiklin, kloramfenikol, dan fenitoin. Metotreksat tidak menembus
sawar darah serebrospinal dalam jumlah terapeutik ketika diberikan secara oral
atau parenteral. Konsentrasi obat CSF yang tinggi dapat dicapai oleh pemberian
secara intratekal.
-
Eliminasi
Ekskresi methotrexate terutama melalui
ginjal. Pada pemberian intravena, 80-90% dari dosis obat tanpa metabolisme akan
diekskresikan dalam waktu 24 jam. Sedangkan ekskresi melalui empedu hanya
<10% dari dosis.
-
Waktu Paruh
Waktu paruh methotrexate adalah 3-10 jam pada
pengobatan psoriasis, rheumatoid arthritis, atau antineoplastik dosis rendah
<30 mg/m2. Sedangkan pada pemberian metotreksat dosis tinggi, waktu paruh
dapat mencapai 8-15 jam.
-
Biovaibilitas
Bioavailabilitas rata-rata sekitar 60%.
Dafrar pustaka
Febriana (2015). Penatalaksanaan
Fisioterapi Pada Kasus Rheumatoid Arthritis Ankle Billateral Di RSUD Saras
Husada Purworejo. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Indijah, S.W. dan P. Fajri. 2016. Farmakologi, Jakarta, Pusdik SDM Kesehatan.
Putra,T.R., Suega,K.,
Artana,I.G.N.B. (2013). Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Penyakit Dalam.
Bagian/SMF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP
Sanglah.
Rekomendasi Perhimpunan
Reumatologi Indonesia. (2014). Diagnosis dan Pengelolaan Artritis Reumatoid.
Perhimpunan Reumatologi Indonesia. ISBN.
Permasalahan
1.
Pemberian
methotrexate dosis tinggi dapat meningkatkan waktu paruhnya, mengapa demikian?
Berapa dosis maksimal dari methotrexate tersebut dan digunakan untuk pengobatan
apa methotrexate pada dosis tinggi?
2.
Jelaskan secara
farmakologi mengapa Sulfasalazin Digunakan sebagai lini pertama sedangkan methotrexate Diberikan pada kasus lanjut dan berat!
3.
Bagaimana mekanisme
kerja dari kortikosteroid dalam penanganan Rheumatoid Arthritis?
Uwaaaahhhh update lagi nihhh postingan ny
BalasHapusmau nanya dong kakak
saya pernah baca di sebuah jurnal bahwa reumatoid atritis ini dapat di sebabkan oleh makanan yang berasal dari tumbuhan
nah kira2 tumbuhan apa saja yaa kakak yang dapat memicu dari reumatoid atritis ini?
terimakasih banyak kakak
terima kasih kakk,sangat bermanfaat kakk🙏🏻
BalasHapusTerimakasih, materi nya sangat bermanfaat👍
BalasHapusterimakasih
HapusTerimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat 🙏🏻
BalasHapusterimakasih kembali
HapusTerimakasih
BalasHapusterimakasih kembali
HapusTrima kasih kk.
BalasHapus👍👍👍
BalasHapusWah sangat lengkap, semangat
BalasHapusSangat bermanfaat, terima kasih ilmunyaaa
BalasHapusTarekk siss
BalasHapusWah bermanfaat sekali kak saya baru tau ada penyakit seperti ini,terima kasih ilmunya kakak^^
BalasHapus